PURI IBU KAWITAN MAJAPAHIT PEMERSATU PERBEDAAN DI NUSANTARA

JIMBARAN (KORANJURI.COM) - Kerajaan Majapahit boleh sirna luluh lantak rata dengan tanah, namun di Jimbaran, Bali, kerajaan besar yang pernah ada di bumi Nusantara itu menjelma kembali dengan nama baru Puri Ibu Majapahit.

Semua barang-barang yang diperkirakan merupakan peninggalan pada masa kerajaan Majapahit masa lalu, seperti keris, patung dan mata tombak, tersimpan di keraton kecil tersebut.Tidak hanya itu saja, konsep tatanan sosial, pemerintahan dan keyakinan dalam beribadat,
juga masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari di Puri yang terletak di Jimbaran, Bali.

Puri Ibu Majapahit juga memiliki seorang raja yang bergelar Hyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI atau yang disebut Raja Majapahit masa kini.

“Raja Majapahit sekarang atau yang biasa kami sebut dengan Eyang, punya tugas sesuai dengan yang diamanatkan leluhur. Beliau sekarang merupakan keturunan ke XI Raja Majapahit,” kata Gusti Raden Panji Noko Prawiro, seorang Pedanda Siwa di Pura Ibu Majapahit.

Hanya saja, Raja di jaman sekarang menurut Noko Prawiro, kiprahnya tetap mengikuti peradaban dengan segala kemajuan yang ada, atau tidak kaku seperti yang ada pada era kerajaan masa lampau. Seperti yang dilakukan Hyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI, dikatakan Noko Prawiro, tetap lurus pada ajaran Siwa Budha dalam tata peribadatan. Siwa Budha merupakan keyakinan yang dianut masyarakat pada masa Majapahit lampau.

Kegiatan yang lain juga tampak pada upaya menyatukan persepsi dan penyamaan dalam visi kesukuan, agama, ras dan antar golongan.

“Kita wajib berbangga, karena perbedaan yang kita miliki kita menjadi kaya dan disitulah sebenarnya konsep penyatuan Nusantara di era Majapahit dulu. Hal itulah yang sering disampaikan Hyang Bathara Agung dengan memberikan wejangan kepada kami supaya kembali memahami arti perbedaan,” terang Gusti Raden Panji Noko Prawiro.

Pola penyatuan Nusantara dalam konsep Hyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI, salah satunya menjalin silaturahmi antar raja-raja di seluruh Nusantara melalui Forum Keraton Seluruh Nusantara (FKSN). Menurut Noko Prawiro, kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara terikat pertalian sejarah yang tak pernah bisa dipisahkan.

“Banyaknya kerajaan pada masa itu tak lepas dari pergolakan politik yang ada. Satu saudara bisa saja saling bertikai dan yang kalah memutuskan keluar dari kerajaan kemudian membentuk kerajaan baru di luar. Meski begitu, sebenarnya raja-raja yang berkuasa tetap berasal dari satu keturunan, hanya terpisah jarak dan waktu saja,” kata Noko Prawiro.

Berpose di depan pintu ijin masuk ke keraton
Secara rutin dalam setiap pergantian tahun, Puri Ibu Majapahit bersama organisasi kemasyarakatan yang terdiri dari World Hindu Youth Organization (WHYO), BEM Universitas Mahendradatta, Forum Komunitas Siwa Budha , dan pada pemuda pemudi Bali, menggelar pemujaan kepada leluhur di Pura Besakih.

Pura Besakih sendiri dianggap sebagai pura tempat bersemayamnya leluhur keturunan Majapahit yang pernah hijrah ke Bali.

“Tahun ini sudah yang kesepuluh kalinya diadakan. Disana kami melakukan tapa brata penyepian tepat saat pergantian tahun, dimulai pukul 00.00 wita. Biasanya acara diisi dengan doa bersama untuk keselamatan dan kedamaian Nusantara,” kata Noko Prawiro.

Kegiatan itu biasanya juga dihadiri oleh berbagai organisasi kemasyarakatan yang berasal dari luar negeri. Gusti Raden Panji Noko Prawiro menuturkan, kisah kebesaran Majapahit masa lampau tidak hanya ada di Indonesia saja, di negara luar seperti, Singapura yang dulu merupakan kerajaan Tumasik, Thailand yang terkenal dengan kerajaan Swarnabhumi sampai negeri Cina sampai sekarang masih mengakui adanya kerajaan besar yang bernama Majapahit yang pernah mempersatukan Nusantara.

“Indonesia hanya sebagian kecil dari Majapahit. Tapi secara luas, negara-negara kerajaan di Asia sampai ke Cina masih sering berkunjung ke Puri Ibu Majapahit. Dari situlah hubungan multilateral masih terjalin dengan baik sampai sekarang. Mereka juga merasa pernah menjadi bagian dari Nusantara,” kata Gusti Raden Panji Noko Prawiro.

Pengalaman lain dari masa keemasan Majapahit juga dirasakan oleh Anak Agung Yudistira dari Puri Agung Dharma Giri Utama, Desa Biaung, Denpasar, saat dirinya berkungjung di bekas kerajaan Swarnabumi atau sekarang dikenal dengan negara Thailand.

Menurutnya, segala macam prasasti dan lontar-lontar yang menggambarkan Majapahit masih tersimpan di negeri Gajah Putih tersebut.
Ritual dan tradisi yang dilakukan sebagian besar masyarakat di Thailand juga hampir mirip dengan yang ada di jawa dan di Bali.

“Saya melihat aura kebudayaan dan tradisi adat di sana (Thailand, red) hampir mirip dengan yang ada di Bali dan Jawa. Dalam tradisi disana, ada juga ritual kirab pusaka yang diarak keliling kota,” terang Anak Agung Yudistira.

Raja Majapahit Bali
Konsep lain dari Hyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI tentang raja dan kerajaan di masa sekarang adalah, raja bisa saja bukan berasal dari keturunan seorang raja dan raja bisa saja tidak memiliki kerajaan atau bertahta di kerajaan yang kecil seperti Puri. Dalam satu istilah dikatakan, raja diangkat tanpa serat sedawir atau tanpa selembar dokumen pun.

Inti yang terpenting dari seorang raja adalah bagaimana menciptakan suasana rukun, damai, sejahtera serta menjalin komunikasi yang baik dengan negara-negara luar sehingga tercipta kerukunan dan kemakmuran secara global.

Dari situ kemudian, ia mengangkat Raja Majapahit Bali pada tahun 2009 yang bergelar Sri Wilatikta Tegeh Kori Krisna Kepakisan I. Raja majapahit Bali ini diangkat dari seorang pemuda yang bernama I Gusti Ngurah Arya Wedhakarna yang merupakan rektor termuda yang menjabat di Universitas Mahendradatta, Bali dengan usia belum mencapai 30 tahun.

“Gusti Ngurah Arya Wedhakarna juga peraih gelar doktor termuda. Karena kemampuannya di bidang sains, Hyang Bathara Agung mengukuhkan sebagai Raja Majapahit Bali. Tugasnya adalah menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara luar, dan yang sudah dilakukan diantaranya dengan negara Rusia, Jepang,dan Australia,” jelas Gusti Raden Panji Noko Prawiro.

Dengan demikian, Raja Majapahit Bali itu bisa dianggap sebagai tangan kanan Hyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI atau bisa juga disebut Gajah Mada-nya Majapahit era sekarang.

“Untuk menjalin hubungan diplomatic harus dilakukan oleh seorang ahli yang mampu melaksanakan tugas tersebut. Karena itu, beliau mengangkat Raja Majapahit Bali dalam upaya menyatukan dan menjaga Nusantara agar tetap bersatu serta menjaga teguh tradisi dan budaya yang ada,” terang Noko Prawiro.

Benda Pusaka
Melihat keberadaan Puri Ibu Majapahit lazim seperti tempat peribadatan umat Hindu Bali. Hanya saja, disitu seluruh umat beragama boleh melakukan persembahyangan, tanpa terkecuali. Gusti Raden Panji Noko Prawiro mengatakan, hal itu merupakan cerminan dari Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa yang jadi ikon persatuan di bumi nusantara.

Disitu terdapat replika Candi Siwa berupa meru tumpeng 9 yang merupakan perwujudan dari bentuk laki-laki yang memiliki 9 lobang. Kemudian dibelakang candi Siwa terdapat meru tumpeng 11 sebagai perwujudan bentuk perempuan yang memiliki 11 lobang. Meru tumpeng 11 ini juga disebut dengan Pagoda. Disitulah terlihat ajaran Siwa Budha yang dianut Majapahit masa lampau.

“Secara filosofis meru tumpeng 9 dan 11 adalah, siapa yang mampu menutup semua lobang yang ada akan menemukan kehidupan sejati. Menutup lobang artinya, menjaga indera dan menahan nasfu dari hal-hal yang bersifat negatif,” terang pria yang mendapat gelar kehormatan dari Keraton Mangkunegaran Surakarta sebagai Pembina Budaya ini.

Selain itu, benda-benda pusaka yang merupakan peninggalan di masa kerajaan majapahit juga masih tersimpan dan dirawat dengan baik. Diantaranya, keris Gajah Mada sepanjang 1,5 meter, keris Sapta Reshi, Keris Mpu Gandring, keris Singobarong, Keris Kala Srenggi, bahkan keris Sam Poo Kong, termasuk lontar-lontar yang berkisah tentang kebesaran Kerajaan Majapahit juga tersimpan di Puri Ibu Majapahit.

Menariknya, upaya mendapatkan benda-benda pusaka berumur ratusan tahun itu terkadang dilakukan secara tidak sengaja.

“Semua pusaka itu berpasang-pasangan. Kalau disini sudah ada satu, tiba-tiba saja ada kolektor yang datang kemari membawa pusaka yang lain dan ketika dipasangkan, kok bentuknya sama persis dengan jumlah luk juga sama,” terang Noko Prawiro.

Pria yang tak pernah lepas dari sarung warna putih dan ikat kepala ini melanjutkan, adakalanya benda pusaka yang kehilangan pasangannya itu dipinjam orang, dan ketika dikembalikan sudah ada pasangannya.

“Tentu saja yang meminjam juga orang yang mampu ‘membawa’ keris itu, tidak boleh sembarangan orang. Biasanya pusaka dibawa untuk suatu keperluan tapi seringkali malah mampu menarik pasangannya,” katanya demikian.

Hingga sekarang, Puri Ibu Majapahit sering dikunjungi oleh semua kalangan masyarakat di Nusantara bahkan mancanegara. Pelajar dan mahasiswa pun juga sering mendatangi Puri itu untuk sekedar mengetahui dan mempelajari arti penting di balik peninggalan kejayaan nusantara.

(way)

Bersambung......Selengkapnya
Habis Baca Langsung Direnungkan !

KEPERCAYAAN SIWA-BUDHA LELUHUR

Kepercayaan Siwa-Budha sudah ada sejak jaman Singasari abad XI, kemulaan dianut di Nusantara pada jaman Majapahit yang telah berhasil menyatukan seluruh Nusantara dengan “ Bhinneka Tunggal Ika Tanhana Dharma Mangruwa “.

Setalah Majapahit runtuh pada abad XV 1500 M, Kepercayaan Siwa-Budha tidak menonjol lagi di Jawa. Tetapi di pulau Bali yang tidak tersentuh Aliran Kepercayaan lain, Siwa-Budha tetap lestari dianut oleh para keturunan Majapahit.

Kepercayaan Siwa-Budha adalah penghormatan kepada leluhur dimana jaman dahulu orang mati dibakar dan abunya dilarung ke sungai atau laut agar kembali ke alam Mokswa atau Tuhan Yang Maha Esa.

Titik awal persatuaan Siwa-Budha memang pada jaman Majapahit dimana Pemujaan Roh Leluhur Bhatara Brahma Raja yang aliran Siwa mempunyai istri Putri Cina yang beraliran Budha dan kemudian menjadi cikal-bakal kawitan Majapahit.

Sebelumnya Siwa terpisah dengan Budha, seperti candi Borobudur khusus Budha, candi Prambanan khusus Siwa dll. Sejak jaman Majapahit menjadi satu candi Siwa-Budha dalam satu area.

Kepercayaan Siwa-Budha dianut Raja dan para keluarganya dan sebagian rakyatnya. Raja secara pribadi disebut Wisnu atau Wisnu-Budha. Jadi kepercayaan Siwa-Budha adalah pemujaan leluhur kawitan Majapahit karena pada era Majapahitlah kepercayaan ini menyebar di Nusantara, karena waktu itu para Raja Nusantara dan keluarganya menganut Siwa-Budha.

Ini dibuktikan tiap keluarga Majapahit tentu punya tempat leluhur kawitan Majapahit. Tempat leluhur bisa disebut makam, tetapi hanya Roh nya. Karena orang mati dibakar dan abunya dilarung ke laut. Contohnya di Bali hampir tiap rumah punya tempat Roh / Makam juga orang Cina, Jepang dll yang kalau mati dibakar, dirumah dibuat tempat sembahyangan dan semua keluarga apapun agamanya tetap sembahyang menghormati leluhurnya seperti orang nyekar ke makam.
Kepercayaan Siwa-Budha di era Reformasi ini sebetulnya Pribadi karena bukan agama dan menarik orang atau membuat ajaran dll.

Hanya untuk menyatukan keluarganya yang kini sudah menganut berbagai agama, hanya didepan leluhur bisa bersatu tetapi secara umum berbeda-beda atau “ Bhinneka Tunggal Ika Tanhana Dharma Mangruwa “.

Jadi kepercayaan Siwa-Budha adalah Pelestari Budaya Majapahit, seperti yang dilakukan HYANG SURYO WILATIKTO / SRI WILATIKTA BRAHMA RAJA XI Jl. Brawijaya/ Darajingga no: 13 Trowulan-Mojokerto Jawa Timur

Mengenai keluarga dari agama Hindu, Budha, Kristen, Islam, Kepercayaan dll mengakui keberadaan leluhurnya Majapahit diucapkan banyak terima kasih atas segala bantuannya. ( R. Sisworo Gautama )

Bersambung......Selengkapnya
Habis Baca Langsung Direnungkan !

KEMBALINYA MAJAPAHIT, DARI TROWULAN KE BALI TERUS KE JAWA LAGI

JIMBARAN (KORANJURI.COM) - Mahkota peninggalan Kerajaan Majapahit yang sudah ratusan tahun menjadi milik kolektor di mancanegara dikembalikan ke Indonesia kepada keturunan sah kerajaan Majapahit yang bernama Hyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI, yang juga disebut Raja Majapahit masa kini. Dengan kembalinya mahkota itu, kebesaran dan kejayaan Majapahit diyakini akan terulang
Sesuai dengan pawisik (bisikan, red), keraton Majapahit masa sekarang yang awalnya dipusatkan di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, dipindahkan ke Bali. Putri Tumasik Way Ching Lee mengenakan mahkota Majapahit kepada sang Brahmaraja XI




Dalam pawisik itu disebutkan Pulau Dewata, Bali merupakan penerus keturunan Majapahit yang masih te rsisa sampai sekarang.

Selain itu, gempuran dari oknum-oknum tidak bertanggungjawab yang tidak menginginkan adanya kegiatan aliran Kejawen bercokol di Trowulan menjadi pertimbangan boyongan kedaton dari wilayah bekas Kerajaan Majapahit di masa lampau itu.

“Akhir tahun 1999 di Trowulan banyak terjadi intimidasi oleh oknum tidak bertanggungjawab. Sampai-sampai saat itu, tempat kami mau diledakkan. Hal itu membuat Eyang (Hyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI, red) merasa sedih, sampai akhirnya memutuskan memboyongnya ke Bali sini,” jelas Gusti Raden Panji Noko Prawiro, Pedanda Siwa di Pura Ibu Majapahit yang terletak di Banjar Buana Gubug Puri Gading Jimbaran, Bali.

Pada tahun 2004, dengan menempati lahan sumbangan dari warga setempat, keraton Majapahit versi sekarang itu dibangun sesuai dengan bangunan aslinya saat masih berada di Trowulan.

Disitu terdapat replika Candi Siwa berupa meru tumpeng 9 yang merupakan perwujudan dari bentuk laki-laki yang memiliki 9 lobang. Kemudian dibelakang candi Siwa terdapat meru tumpeng 11 sebagai perwujudan bentuk perempuan yang memiliki 11 lobang. Meru tumpeng 11 ini juga disebut dengan Pagoda. Disitulah terlihat ajaran Siwa Budha yang dianut Majapahit masa lampau.

“Secara filosofis meru tumpeng 9 dan 11 adalah, siapa yang mampu menutup semua lobang yang ada akan menemukan kehidupan sejati. Menutup lobang artinya, menjaga indera dan menahan nasfu dari hal-hal yang bersifat negatif,” terang pria yang mendapat gelar kehormatan dari Keraton Mangkunegaran Surakarta sebagai Pembina Budaya ini.

Keraton Majapahit yang ada di Bali itu kemudian dinamakan Pura Ibu Majapahit yang kini dijadikan simbol pemersatu Nusantara dengan bertemunya semua aliran dan kepercayaan yang ada di Indonesia seperti Majapahit silam. Majapahit sebagai penganut ajaran Siwa Budha juga masih dipertahankan di Puri tersebut.

“Saya juga masih berpegang pada. ajaran Siwa Budha sesuai kepercayaan yang dianut para leluhur Majapahit yang telah dilupakan orang lain. Selain itu, saya juga sudah membuktikan bahwa saya bisa menyatukan semua agama dalam tradisi

Majapahit, semua itu ada dokumen otentik yang masih tersimpan sampai sekarang. Hingga saat ini saya berjuang terus untuk menyatukan dan menciptakan perdamaian dunia, termasuk membersihkan dunia dari kekotoran,” ujar Hyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI di Puri Ibu Majapahit.

Bukti ilmiah lainnya, disebutkan, serat Sabdopalon Nayogenggong yang menyebutkan, jikalau suatu saat nanti ada orang Jawa yang memakai nama tua dengan senjata ilmu kaweruh, itulah yang dipilih atau diemong Sabdopalon.

Orang Jawa yang tidak mengerti Jawanya, akan diajari untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Menurutnya, bukti-bukti itu me¬ngarah kepadanya karena selama ini banyak orang memanggilnya dengan sebutan Hyang tetapi lebih sering di singkat Eyang.

Yang paling otentik adalah makhota kerajaan Majapahit yang pas dikenakan di kepalanya sebagai per¬tanda bahwa dirinya adalah trah Majapahit yang ditugaskan memban¬gun kembali kejayaan Majapahit.

”Tidak ada tujuan lain selain membawa kawula Majapahit untuk lebih mencintai Tanah Airnya serta Budaya dan adatnya serta ritualnya yang akan dihapuskan secara perlahan oleh bangsa Arab supaya terus setor kekayaan ke Negeri Padang pasir,” tegas Eyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI.

Kembalinya nusantara ke jaman Majapahit diartikan bersatunya Indonesia dalam bingkai NKRI tanpa memandang suku, agama, ras dan antar golongan. Semuanya melebur dalam satu Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bernafaskan Pancasila. Saat itulah nusantara kembali Berjaya seperti pada jaman Majapahit dulu.


Putri Tumasik
 

Kembalinya mahkota peninggalan majapahit ditandai dengan datangnya putri asal Singapura yang bernama Way Ching Lee, warga Singapura yang juga tercatat sebagai keturunan langsung Raja Tumasik yang merupakan bekas wilayah ker¬ajaan Majapahit.

Way Ching Lee berinisiatif mencari pemilik yang sah mahkota itu. Didukung para dermawan dari Bangkok, Siam, Thailand, Singapura, Cina, dan Australia, mahkhota tersebut ditebus dari tangan kolektor untuk dikembalikan ke kerajaan Majapahit.

Awalnya, Hyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI merasa belum yakin dengan terpilihnya ia menjadi pewaris mahkota nusantara peninggalan leluhurnya itu. Ia masih mempersilakan semua tamu yang saat itu hadir untuk mencoba mahkota yang dibawa ke Pura Ibu Majapahit.

“Mungkin ada yang lebih pas ketimbang saya,” ujar Hyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI.

Beberapa orang mencobanya, termasuk rohaniwan asal Australia, Michael yang ukuran kepalanya jelas lebih besar ketimbang ukuran kepala orang Indonesia.

Anehnya, ketika dikenakan mahkota itu justru longgar masuk ke kepala Michael. Kemudian mahkota dicobakan kepada raja Bali Mula, Dewa Agung Putranata Wijaya Kusuma, yang memiliki ukuran kepala standar orang Indonesia. Keanehan kembali terjadi. Saat dikenakan mahkota itu justru kekecilan.

Akhirnya para utusan Negara yang menginginkan Dunia Adil makmur Sejahtera meminta Brahmaraja XI mencoba walaupun beberapa kali ditolak oleh Raja Majapahit tersebut dengan alasan mungkin masih ada yang lain yang berhak menerimanya.

Tapi dengan keyakinan yang tidak diragukan lagi, para utusan Negara ini mencoba memakaikan kepada Raja Majapahit, dan ternyata pas. Ketika Way Cing Lee putri dari Raja Tumasik atau Singapura sekarang, mengenakannya, tiba-tiba muncul keanehan susulan dengan turunnya sinar berwarna emas dari langit disertai suara angin gemuruh dan kilat menyambar-nyambar.

Selendang Way Cing Lee yang berwarna Jingga terlepas dan menyambar seakan-akan ingin memeluk Brahmaraja. Ditambahkan Gusti Raden Panji Noko Prawiro, dalam rekaman handycam yang sudah diedit, muncul suara seperti langgam cina diiringi nyanyian yang terdengar di seluruh penjuru mata angin.

Akhirnya Mahkota diserahkan kepada Brahmaraja XI melalui Dyah Ayu Sukmawati Soekarnoputri yang tanpa saat itu ikut hadir bersama rombongan ke Pura Ibu Majapahit Jimbaran, Bali. Untuk mendapatkan kembali mahkota itu, pemerintah negara Bangkok, Siam, Thailand, Singapura, China, dan Australia mengumpulkan uang untuk menebus harga mahkota supaya semua merasa memiliki Majapahit.
Namun ada sedikit keganjilan yang terlihat dari makhota tersebut.

Tiga buah permata sebagai hiasan, hilang seper¬ti sengaja dicongkel. Menurut Sri Wilatikta Brahmaraja XI, tiga permata tersebut dicongkel dan dijual para kolektor yang sempat memegangnya. Satu permata rubi konon berada di Amerika, satu buah permata blue dia¬mond (safir) dibeli orang Inggris, sedangkan satu permata jamrud diboyong kolektor Hongkong. Pihak Singapura yang diwakili Way Ching Lee bersama para donatur mancanegara berjanji menebus permata terse¬but untuk dikembalikan.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, dengan munculnya makhota Kerajaan Majapahit di awal tahun 2009 itu, diramalkan sebagai pertanda rawannya permasalahan politik di Indonesia. Menurut pandangan para peramal, Majapahit tidak pernah lepas dari persoalan politik hingga membuat kerajaan itu hancur berkeping-keping dan hilang bagai ditelan bumi.

Berusia 200 Tahun
Sampai sekarang tidak ada orang yang tahu persis berapa usia Hyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI. Namun dari penjelasan Pedanda Siwa Pura Ibu Majapahit, Gusti Raden Panji Noko Prawiro, sedikit gambaran mulai terkuak.

Ia mengisahkan, lahirnya Sang Brahmaraja ditandai dengan tumbuhnya pohon beringin yang hingga kini masih tumbuh dan diperkirakan berusia 200 tahun.

“Beliau lahir di Blitar, Jawa Timur dan saat lahir itu berbarengan dengan tumbuhnya pohon beringin yang sampai sekarang masih ada usianya sekitar 200 tahun. Saya sempat menanyakannya dan dijawab oleh beliau, kalau di jaman sekarang ada orang berusia lebih dari 150 tahun mana ada orang percaya, lebih baik semuanya biar saya sendiri yang tahu,” kata Gusti Raden Panji Noko Prawiro menirukan ucapan Sang Brahmaraja XI.

Usia Brahmaraja XI yang kini memang mencapai 200 tahun juga dibuktikan dengan kawan kecilnya yang bertahan hidup selama empat generasi dan sekarang sudah meninggal dunia.

Saat itu, menurut Gusti Raden Panji Noko Prawiro, ada seorang tamu mendatangi Pura Ibu Majapahit. Tamu tadi ternyata cicit dari seseorang yang berfoto bersama Brahmaraja XI. Karena merasa kenal dengan leluhurnya yang sudah meninggal, secara spontan tamu asal Tabanan itu mengakui kalau orang di foto itu adalah kompyang atau kakek buyutnya.

”Saat itu saya tegaskan kepada tamu saya itu, jangan pernah mengaku-aku. Tapi dia ngotot kalau orang tua itu adalah kakek buyutnya. Bahkan sempat ia berseloroh, kok masih ada orang yang menyimpan foto leluhur saya,” jelas Gusti Raden Panji Noko Prawiro.

Keesokan harinya, si tamu mengajak orangtuanya untuk memastikan bahwa orang di dalam foto itu adalah leluhur mereka.

”Ternyata bapaknya juga mengatakan kalau orang tua itu adalah kakeknya yang sudah meninggal lama. Kemudian saya menghitung, kalau kompyang tadi sudah hidup empat generasi berarti umur Sang Brahmaraja XI sekitar 200 tahunan. Itu kalau dihitung satu generasi umurnya 50 tahun,” panjang lebar Gusti Raden Panji Noko Prawiro mengisahkan.

Ketika ditanyakan kembali oleh Gusti Raden Panji Noko Prawiro soal rahasia umur panjang itu, Hyang Bathara Agung Wilatikta Brahmaraja XI menjawab dengan perumpamaan, kalau fisik itu sudah renta tapi dipaksa dan berbeban berat, niscaya fisik tidak akan sanggup menerimanya meski jiwa masih tetap muda dan sehat.

“Saya jadi berpikir, kalau tubuh diibaratkan mesin yang punya beban maksimal tapi dipaksa membawa beban yang melebihi kapasitasnya, otomatis mesin itu tidak akan sanggup berjalan lagi. Mungkin seperti itu rahasia umur panjang beliau, selalu sumeleh dan menerima semua apa adanya,” ungkap  Gusti Raden Panji Noko Prawiro. 

Way

Bersambung......Selengkapnya
Habis Baca Langsung Direnungkan !


PANCASILA

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmad kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan
  5. Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia


Perlu dipahami kembali butir-butir "Thagut" diatas, supaya yang merasa anti dengan adat dan budaya sendiri kembali sadar di mana bumi dipijak

Comment Pro & Kontra Bersatu

 

Berita Utama dari Pemerintahan

News Nusantara

Friend Connect Google Menetap

>